Rabu, 13 Februari 2019

PENDERITA SINDROM KLINEFELTER



Scenario 1 BLOK 10 ,BELAJAR SAMBIL BERBAGI


PENDERITA SINDROM KLINEFELTER
Sindrom itu sendiri adalah himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu; hal-hal (seperti emosi atau tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi (KBBI online)
Sindrom klinefelter (SK) adalah kelainan bawaan pada pria yang dapat memengaruhi perkembangan fisik serta intelektual dalam bersikap dan berperilaku.
Biasanya, wanita memiliki dua kromosom X (XX). Sementara pria memiliki kromosom X dan Y (XY). Namun dalam kasus yang jarang terjadi, seorang pria bisa diahirkan dengan jumlah kromosom X yang berlebihan. Nah, kelebihan kromosom X pada pria inilah yang menjadi penyebab sindrom klinefelter. Pria dengan kondisi ini mungkin tidak mengalami masa pubertas sebagaimana mestinya. Sebaliknya, pria yang mengidap sindrom ini justru memiliki beberapa karakteristik wanita.
PENYEBAB SK
Kromosom seks tambahan pada SK merupakan akibat nondisfungsi pada proses meiosis (gametogenesis parental), yang dapat berasal dari paternal (50-60% kasus) atau maternal (meiosis maternal I menyebabkan 34,4% kasus, meiosis maternal II menyebabkan 9,3% kasus). Nondisfungsi dapat juga disebabkan kegagalan pembelahan pada saat mitosis dalam zigot (3,2% kasus).
NOTE : Kelebihan kromosom X pada laki-laki terjadi karena terjadinya nondisjungsi meiosis (meiotic nondisjunction) kromosom seks selama terjadi gametogenesis (pembentukan gamet) pada salah satu orang tua. Nondisjungsi meiosis adalah kegagalan sepasang kromosom seks untuk memisah (disjungsi) selama proses meiosis terjadi. Akibatnya, sepasang kromosom tersebut akan diturunkan kepada sel anaknya,sehingga terjadi kelebihan kromosom seks pada anak. Sebesar 40% nondisjungsi meiosis terjadi pada ayah, dan 60% kemungkinan terjadi pada ibu. Sebagian besar penderita sindrom klinefelter memiliki kromosom XXY, namun ada pula yang memiliki kromosom XXXY, XXXXY, XXYY, dan XXXYY.
Kromosom X tambahan tersebut merupakan suatu masa berkromatin, yang disebut sebagai Barr body. Barr body terdapat di dalam inti sel somatik, namun belum diketahui dengan tepat bagaimana kromosom tambahan ini dapat menyebabkan kegagalan testikular.
Pendekatan diagnosis SK atas dasar kombinasi beberapa gejala klinis. Hipogonadisme sebagai karakteristik SK, mempunyai berbagai bentuk kelainan fisis, hormonal, dan perkembangan. Gambaran klinis dapat bervariasi menurut usia. Abramsky dan Chapple melaporkan bahwa hanya 10% kasus SK yang dapat diidentifikasi pre-natal dan 26% kasus didiagnosis pada masa anak atau dewasa, sedangkan sisanya (64%) tidak terdiagnosis. Suatu studi besar di Denmark menyatakan SK banyak yang tidak terdiagnosis, dan kurang dari 10% kasus yang dapat ditegakkan sebelum usia pubertas.
            *(Hipogonadisme adalah suatu kondisi ketika hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual (pada pria disebut testis dan pada wanita disebut ovarium) berada di bawah jumlah normal)
FAKTOR-FAKTOR SK
Apa yang meningkatkan risiko TERJADI sindrom klinefelter?
Sindrom ini berasal dari peristiwa genetik acak. Risiko seorang anak yang lahir dengan sindrom ini tidak meningkat oleh apa pun yang dilakukan orangtuanya.
Meski faktor pemicunya tidak diketahui secara jelas, namun wanita yang hamil di usia lebih tua, berisiko melahirkan anak dengan kondisi ini.
GEJALA SK
Beberapa pasien dapat mempunyai semua gejala klinis klasik kelainan ini (diurutkan dari yang paling sering timbul) yaitu infertilitas, volume testis kecil, kurangnya rambut-rambut pada wajah dan pubis, ginekomastia, dan ukuran penis yang lebih kecil. Gejala klinis yang paling penting adalah volume testis yang kecil dan teraba keras. Kelainan fisis pada SK sering muncul setelah mulainya pubertas.
            *(Ginekomastia adalah pembesaran jaringan kelenjar payudara yang terjadi pada pria. Pembesaran disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dengan testosteron. )
NOTE :  Testis yang kecil diakibatkan oleh sel germinal testis dan sel selitan (interstital cell) gagal berkembang secara normal. Sel selitan adalah sel yang ada di antara sel gonad dan dapat menentukan hormon seks pria.

DIAGNOSIS
Diagnosis SK ditegakkan melalui analisis kariotip kromosom yang dapat dilakukan in utero dengan bahan cairan amnion, yang biasanya dilakukan secara rutin pada wanita yang hamil dalam usia yang lebih tua. Jika diagnosis tidak ditegakkan sejak pre-natal, laki-laki 47, XXY dapat menunjukkan gejala klinis yang berkembang sesuai usia.
Pada masa bayi, pasien akan terdiagnosis setelah analisis kromosom dilakukan pada bayi yang datang dengan keluhan hipospadia, phallus kecil, atau kriptorkidisme.
*(Hipospadia adalah kondisi di mana uretra tidak berada di posisi yang normal. Uretra merupakan sebuah saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan ujung penis. Dalam kondisi normal, lubang uretra terletak tepat di ujung penis untuk mengeluarkan urine. Tetapi pada pengidap hipospadia, lubang uretra justru berada di bagian bawah penis.)
*(Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.)
Pada masa anak, pasien datang dengan keluhan keterlambatan perkembangan, terutama keterlambatan berbicara.
Pada usia sekolah, pasien dapat terdeteksi akibat adanya keluhan kesulitan belajar, gangguan tingkah laku atau sosial.
Pada usia remaja, SK akan terdeteksi setelah dilakukan evaluasi endokrin pada keadaan pubertas terlambat atau tidak sempurna dengan bentuk tubuh eunukoid, ginekomastia, dan ukuran testis yang kecil.
Pasien yang telah dewasa biasanya datang dengan keluhan infertilitas atau keganasan payudara. Pasien SK dapat mengalami perkembangan seksual yang normal sebelum pubertas dan memasuki pubertas sesuai waktu dengan fungsi hipofisis-gonadal yang normal. Hal ini dimungkinkan karena pada saat mengalami spermarke (“mimpi basah”), fungsi testikular pasien SK masih relatif normal. Degenerasi testis akan terjadi dengan cepat pada saat pubertas hingga tercapai hialinisasi lengkap tubulus seminiferus, degenerasi sel Sertoli, dan hiperplasia sel Leydig pada saat dewasa.
Testis dapat teraba lebih keras karena terjadi fibrosis tubulus seminiferus. Gambaran klinis berupa volume testis yang lebih kecil dan teraba lebih keras ini hampir selalu ada pada SK. Pada saat pubertas karakteristik skeletal mulai terlihat, oleh sebab itu, perhatian khusus pada pemeriksaan bentuk tubuh (body habitus) sangat diperlukan dalam penegakkan diagnosis. Pasien biasanya terlihat lebih tinggi dari rata-rata akibat ukuran tungkai bawah yang lebih panjang dan disertai rentang lengan lebih panjang 2 cm atau lebih dari tinggi badan. Bentuk tubuh seperti ini disebut eunukoid. Peningkatan ukuran segmen bawah tubuh (jarak simfisis pubis ke tumit) timbul sebelum pubertas dan bukan disebabkan secara primer akibat penutupan epifisis yang terlambat karena defisiensi androgen, tetapi karena perbedaan kecepatan tumbuh secara fundamental yang timbul akibat adanya kromosom X tambahan. Akibatnya tinggi badan pasien SK sering melebihi tinggi potensial genetiknya.
Fungsi endokrin testikular yang sudah menurun sejak janin, fungsi hipofisis-gonadal pasca-natal pasien SK dapat normal hingga pubertas. Baru setelah usia 12-14 tahun, terjadi peningkatan kadar FSH dan LH. Kadar testosteron pada saat itu dapat berada pada nilai batas bawah sampai di bawah normal. Pemantauan kadar testosteron berkala setiap 3-6 bulan diperlukan untuk memulai substitusi testosteron bila telah terjadi hipogonadisme. Beberapa laporan pengamatan jangka panjang menyatakan bahwa pasien SK lebih sering mengalami kesulitan akademis. Kepribadian pasien SK juga sangat bervariasi. Suatu studi menggambarkan lakilaki 47, XXY pasif, tidak matang, tertutup, sensitif, pendiam, dan sulit bergaul dengan teman sebaya.
TERAPI SK
NOTE PENCEGAHAN : Gejala klinefelter pada janin jarang sekali terdeteksi, kecuali bila menggunakan deteksi sebelum-kelahiran (prenatal detection). Sindrom ini kadang-kadang dapat diturunkan dari ayah penderita klinefelter ke anaknya, oleh karena itu perlu dilakukan deteksi sebelum-kelahiran. Sebagian kecil penderita klinefelter dapat tetap fertil dan memiliki keturunan karena adanya mosaiksisme(mosaicism), yaitu adanya campuran sel normal dan sel klinelfelter sehingga sel normal tetap memiliki kemampuan untuk berkembang biak. Semakin cepat dideteksi, penderita klinefelter dapat lebih cepat ditangani dengan terapi farmakologi dan terapi psikologi sebelum memasuki dunia sekolah. Tindakan pencegahan lain yang harus dilakukan adalah uji kemampuan mendengar dan melihat, dan terapi fisik untuk mengatasi masalah motorik dan keterlambatan bicara. Terapi hormon testosteron pada usia 11-12 tahun merupakan salah satu tindakan pencegahan keterbelakangan perkembangan karakteristik seksual sekunder pada pria penderita klinefelter.
Belum diketahui apakah terapi sulih hormon (hormonal replacement therapy) yaitu androgen, secara lebih dini yaitu pada onset pubertas dapat memperbaiki hipogonadisme pada pasien SK. Jika diberikan, maka terapi sulih androgen berlangsung seumur hidup. Terapi sulih testosteron tidak memperbaiki keadaan infertilitas, ginekomastia, dan ukuran testis yang kecil, namun dapat mengatasi defisiensi androgen. Akan nampak peningkatan rambut-rambut di wajah dan pubis, distribusi lemak tubuh menjadi lebih maskulin, pemikiran yang lebih terarah, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi kelemahan tubuh dan iritabilitas, serta akan meningkatkan libido, dan kekuatan tulang setelah mendapat terapi sulih testosteron.
Testosteron juga mempunyai efek jangka panjang untuk mengurangi risiko osteoporosis, penyakit autoimun, dan keganasan payudara. Beberapa komplikasi yang sering terjadi pada pasien SK adalah gangguan endokrin (diabetes mellitus, hipotiroid, dan hipoparatiroid), keganasan (karsinoma payudara, limfoma non-Hodgkin), penyakit autoimun (lupus eritematosus sistemik, sindrom Sjögren, dan artritis reumatoid), gangguan intelektual dan psikiatri (keterlambatan bicara dan berbahasa, berkurangnya daya ingat, ansietas, neurosis, psikosis dan depresi), dan tromboemboli (varises vena, trombosis vena dalam, dan emboli paru akibat stasis vena).
PENGOBATAN : Beberapa pengobatan paling umum untuk sindrom klinefelter adalah melakukan terapi hormon untuk membantu pembentukan karakteristik seksual sekunder laki-laki. Testosteron, diberikan sebagai suntikan atau patch pada kulit, menyebabkan perkembangan otot laki-laki normal dan merangsang pertumbuhan rambut (jenggot, ketiak, dan rambut kelamin).
Ginekomastia dapat diobati dengan pembedahan (pengangkatan payudara). Benjolan di payudara harus diperiksa untuk memeriksa adanya kanker payudara.
Osteoporosis dapat diobati dengan pemberian testosteron ditambah dengan cukup kalsium dan vitamin D serta latihan beban biasa.
 SUMBER:
Tambahan bonus :
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e0/Major_events_in_mitosis.svg/400px-Major_events_in_mitosis.svg.png
Siklus sel
Siklus sel adalah fungsi sel yang paling mendasar berupa duplikasi akurat sejumlah besar DNA di dalam kromosom, dan kemudian memisahkan hasil duplikasi tersebut hingga terjadi dua sel baru yang identik.[1]
Siklus sel yang berlangsung kontinu dan berulang (siklik), disebut proliferasi. Keberhasilan sebuah proliferasi membutuhkan transisi unidireksional dan teratur dari satu fase siklus sel menuju fase berikutnya. Jenjang reaksi kimia organik yang terjadi seyogyanya diselesaikan sebelum jenjang berikutnya dimulai. Sebagai contoh, dimulainya fase mitosis sebelum selesainya tahap replikasi DNA akan menyebabkan sel tereliminasi.
Jenjang reaksi yang terjadi pada siklus sel, sangat mirip dengan relasi substrat-produk dari sebuah lintasan metabolik. Produk dari sebuah jenjang reaksi akan berfungsi sebagai substrat pada jenjang berikutnya, demikian pula dengan laju reaksi jenjang yang pertama akan menjadi batas maksimal laju reaksi pada jenjang berikutnya.
Transisi antara jenjang reaksi ditentukan oleh lintasan pengendali ekstrinsik dan intrinsik yang terdiri dari beberapa cekpoin, sebagai konfirmasi selesainya reaksi pada suatu jenjang sebelum jenjang berikutnya dimulai. Kedua lintasan kendali dapat memiliki cekpoin yang sama.
Lintasan kendali instrinsik akan menentukan setiap tahap berjalan sebagaimana mestinya. Fasa S, G2 dan M pada sel mamaliadikendalikan oleh lintasan ini, sehingga waktu yang diperlukan untuk fase tersebut, tidak jauh bervariasi antara satu sel dengan sel lain.
Lintasan kendali ekstrinsik akan berfungsi sebagai respon terhadap kondisi di luar sel atau telisik defisiensi sel.
Defisiensi lintasan kendali intrinsik seringkali menyebabkan kanker. Penyimpangan pada protein yang mengendalikan cekpoin siklus fase sering ditemukan pada penderita kanker.

BY : RANAH MEWARNAI
"sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain" 

file dalam bentuk pdf bisa di akses melalui : https://ranahmewarnai.blogspot.com/2019/02/bahas-tuntas-penderita-sindrom.html

Minggu, 11 November 2018

Nifedipin vs oros osmotic-controlled release oral delivery system (Tablet pelepasan lambat)


Nifedipin vs oros osmotic-controlled release oral delivery system (Tablet pelepasan lambat)

Rumus molekul : C17H18N2O6
Nama IUPC : dimethyl 2,6-dimethyl-4-(2-nitrophenyl)-1,4-dihydropyridine-3,5-dicarboxylate
Titik lebur : 172-174 °C
Kelarutan : kurang dari 1 mg / mL pada 67,1° F (NTP, 1992) , tidak larut air
Tekanan uap : 2,6X10-8 mmHg pada 25 derajat C
Log p : 2.20 menurut MASUMOTO,K ET AL. (1995)
                   Nifedipine adalah agen vasodilator kuat dengan aksi antagonis kalsium. Ini adalah agen anti-angina(nyeri dada) yang berguna yang juga menurunkan tekanan darah.
Nifedipine adalah Penghambat Saluran Kalsium dihidropiridin. Mekanisme kerja nifedipine adalah sebagai Antagonis Saluran Kalsium.
                   Klasifikasi kimia nifedipine adalah Dihydropyridines.
Nifedipine adalah agen penghambat saluran kalsium dihidropiridin. Nifedipine menghambat masuknya transmembran ion kalsium ekstraseluler ke dalam sel otot polos miokard dan vaskular, menyebabkan dilatasi arteri koroner dan sistemik utama dan menurunkan kontraktilitas miokard. Agen ini juga menghambat pompa penghabisan obat P-glikoprotein yang diekspresikan berlebihan pada beberapa tumor yang resistan terhadap beberapa obat dan dapat meningkatkan efikasi beberapa agen antineoplastik. (NCI04)
                   Pada konsentrasi terapeutik sub-toksik, nifedipine memiliki sedikit efek pada myocytes jantung dan sel konduksi. Dengan memblokir saluran kalsium, Nifedipine menghambat spasme arteri koroner dan melebarkan arteri sistemik, menghasilkan peningkatan suplai oksigen miokard dan penurunan tekanan darah sistemik.
               Kelas Farmakologi
Mekanisme Aksi [MoA]
Antagonis Saluran Kalsium
Established Pharmacologic Class [EPC]
Dihydropyridine Calcium Channel Blocker
Chemical/Ingredient structural concept [Chemical/Ingredient]                
Dihydropyridines


Bentuk & Kekuatan Dosis
Kapsul (IR): 10mg, 20mg
tablet, (ER) rilis diperpanjang : 30mg, 60mg, 90mg

Angina
10 mg (konvensional) PO q8hr atau 30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari awalnya; dapat ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN

Perawatan: 10-20 mg (konvensional) PO q8hr hingga 20-30 mg PO q6-8hr; tidak melebihi 180 mg / hari (konvensional) atau 120 mg / hari (rilis diperpanjang)

Hipertensi
30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari; dapat ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN; tidak melebihi 90 mg / hari (Adalat CC) atau 120 mg / hari (Procardia XL)

Hipertensi pulmonal
30 mg (diperpanjang-rilis) PO q12hr; dapat ditingkatkan menjadi 120-240 mg / hari (monitor)

Raynaud Phenomenon (Off-label)
30-120 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari

Anal Fissures (Off-label)
0,2% gel / salep topikal (extemporaneously compounded) q12hr selama 3-6 minggu

20 mg sublingual
Modifikasi Dosis
Peritoneal dialysis (PD) atau hemodialysis (HD): Dosis tambahan tidak diperlukan

Sirosis: Pertimbangkan penyesuaian dosis
Administrasi

Lakukan dengan perut kosong
                   Pengobatan pada pasien Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkaitusia lanjut. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, sarafpusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi.
                   Hindari produk konvensional (yaitu, segera rilisIR); potensi hipotensi dan risiko mencetuskan
 iskemia miokard Angina
 
10 mg (konvensional) PO q8hr atau 30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari awalnya; dapat
 ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN
 
Perawatan: 10-20 mg (konvensional) PO q8hr hingga 20-30 mg PO q6-8hr; tidak melebihi 
180 mg / hari (konvensional) atau 120 mg / hari (rilis diperpanjang)
 
Hipertensi : 30-60 mg (ER rilis diperpanjang) PO satu kali sehari; dapat ditingkatkan setiap 7-14
 hari PRN; tidak melebihi 90 mg / hari (Adalat CC) atau 120 mg / hari (Procardia XL)

                   Dampak buruk
Efek merugikan berbeda antara formulasi short-acting (konvensional) dan extended-release, 
dengan preparasi konvensional yang memiliki reaksi obat buruk yang lebih serius dalam beberapa
kasus.> 10% : Edema perifer (10-30%), Pusing (23-27%), Flushing (23-27%), Sakit kepala (10-23%),  
Heartburn (11%), Mual (11%), 1-10%, Kram otot (8%), Perubahan mood (7%), Gugup (7%)
Batuk (6%),Dyspnea (6%), Palpitasi (6%), Desah (6%), Hipotensi, sementara (5%), Urtikaria (2%),
Pruritus (2%), Sembelit (<2%), Nyeri dada (<2%)

Hindari penggunaan formulasi (IR) pelepasan segera pada orang tua; dapat menyebabkan hipotensi 
dan risiko mencetuskan iskemia miokard

Farmakologi
Mekanisme aksi
                   Penghambat saluran kalsium; menghambat masuknya transmembran ion kalsium
ekstraseluler melintasi membran sel otot polos otot jantung dan pembuluh darah tanpa mengubah
konsentrasi kalsium serum; ini menghasilkan penghambatan kontraksi otot polos jantung dan 
pembuluh darah,sehingga melebarkan arteri koroner dan sistemik utama
 
 Vasodilatasi dengan resistensi perifer menurun dan peningkatan denyut jantung
 
absorbsi
Cepat dan sepenuhnya diserap setelah pemberian oral.
 
Bioavailabilitas: Konvensional, 40-77% ;extended release, 65-89%
 
Onset: Konvensional, 20 menit; extended release, 30 menit
 
Durasi: Konvensional, 8 jam; extended release, 24 jam
 
Puncak waktu plasma: Konvensional, 30-120 menit; extended release, 6 jam (Procardia XL) atau 
2,5-5 jam (Adalat CC)
 
Distribusi
Protein terikat            : 92-98%
Vd                                  : 1,42-2,2 L / kg
Metabolisme
Dimetabolisme di hati oleh CYP3A4
Metabolit: analog Nitropyridine (tidak aktif)
 
Eliminasi
Setengah hidup (Half-life): Konvensional, 2-5 jam; 7 jam pada sirosis
 
Dialyzable: Tidak ada penyesuaian dosis yang diperlukan dalam HD atau PD
 
Ekskresi: Urine (60-80%), feses (20-40%)

Rute Eliminasi
Nifedipine secara ekstensif dimetabolisme menjadi sangat larut dalam air, metabolit tidak aktif terhitung 60 hingga 80% dari dosis yang diekskresikan dalam urin. Sisanya diekskresikan dalam feses dalam bentuk dimetabolisme, kemungkinan besar sebagai hasil ekskresi biliaris.
Sekitar 90% dari dosis oral nifedipine dengan cepat diserap dari saluran pencernaan setelah pemberian obat oral sebagai kapsul konvensional. Hanya sekitar 45-75% dari dosis oral karena kapsul konvensional mencapai sirkulasi sistemik sebagai obat yang tidak berubah karena nifedipine dimetabolisme pada saat pertama melewati hati. Konsentrasi serum puncak biasanya dicapai dalam waktu 0,5-2 jam setelah pemberian oral sebagai kapsul konvensional. Makanan tampaknya menurunkan tingkat tetapi tidak tingkat penyerapan nifedipine sebagai kapsul konvensional.
American Society of Health System Pharmacists; Informasi Obat AHFS 2009. Bethesda, MD. (2009)
Pada keadaan mapan(steady-state), bioavailabilitas tablet extended-release nifedipin adalah 86% dibandingkan dengan kapsul nifedipin yang segera dilepaskan (imediet-release). Pemberian tablet ER nifedipine dengan adanya makanan sedikit mengubah tingkat awal penyerapan obat, tetapi tidak mempengaruhi tingkat bioavailabilitas obat. Secara signifikan mengurangi waktu penyimpanan GI selama periode yang berkepanjangan (yaitu, sindrom usus pendek), bagaimanapun, dapat mempengaruhi profil farmakokinetik obat yang berpotensi menghasilkan konsentrasi plasma yang lebih rendah.

Setelah pemberian adalat CC extended-release
nifedipine tablet pada individu geriatrik sehat (lebih tua dari 60 tahun), konsentrasi plasma puncak rata-rata dan konsentrasi plasma rata-rata nifedipine meningkat sebesar 36 dan 70%, masing-masing, dibandingkan dengan yang diamati pada yang lebih muda orang dewasa.
Setelah pemberian IV nifedipine, pembersihan tubuh obat adalah 519 dan 348 mL / menit pada orang dewasa muda dan individu geriatri, masing-masing.
Metabolisme / Metabolit
Metabolisme
Metabolisme hati melalui sitokrom P450 sistem. Sebagian besar dimetabolisme oleh CYP3A4, tetapi juga oleh CYP1A2 dan CYP2A6 isozim.
Obat ini secara ekstensif dimetabolisme di hati (untuk metabolit yang sangat larut dalam air, tidak aktif) oleh sitokrom P-450 sistem enzim mikrosomal, termasuk CYP3A.
American Society of Health System Pharmacists; Informasi Obat AHFS 2009. Bethesda, MD. (2009)

Biological Half-Life
2 jam Pada pasien dengan fungsi ginjal dan hati yang normal, the plasma half-life nifedipine adalah sekitar 2 jam ketika diberikan sebagai kapsul konvensional, dan sekitar 7 jam ketika diberikan sebagai tablet rilis diperpanjang (Adalat CC).

Mekanisme aksi
Nifedipine mengurangi kontraktilitas otot polos arteri dan vasokonstriksi berikutnya dengan menghambat masuknya ion kalsium melalui saluran kalsium tipe L. Ion kalsium yang memasuki sel melalui saluran ini berikatan dengan calmodulin. Kalsium-bound calmodulin kemudian mengikat dan mengaktifkan myosin light chain kinase (MLCK). Activated MLCK mengkatalisis fosforilasi subunit rantai regulasi ringan dari myosin, langkah kunci dalam kontraksi otot. Amplifikasi sinyal dicapai dengan pelepasan kalsium yang diinduksi kalsium dari retikulum sarkoplasma melalui reseptor ryanodine. Penghambatan masuknya awal kalsium menghambat proses kontraktil sel otot polos, menyebabkan pelebaran arteri koroner dan sistemik, peningkatan pengiriman oksigen ke jaringan miokard, penurunan resistensi perifer total, penurunan tekanan darah sistemik, dan penurunan afterload. Efek vasodilatory dari nifedipine menghasilkan penurunan tekanan darah secara keseluruhan.

               Tindakan fisiologis utama nifedipine adalah untuk menghambat masuknya transmembran ion kalsium ekstraseluler melintasi membran sel miokard dan sel otot polos pembuluh darah, tanpa mengubah konsentrasi serum kalsium. Kalsium memainkan peran penting dalam proses pengikatan eksitasi-kontraksi jantung dan sel otot polos pembuluh darah dan dalam pelepasan listrik sel konduksi khusus dari jantung. Membran sel-sel ini mengandung banyak saluran yang membawa arus lambat ke dalam dan yang selektif untuk kalsium. Aktivasi saluran kalsium lambat ini berkontribusi pada fase plateau (fase 2) dari potensial aksi sel otot polos jantung dan pembuluh darah. Mekanisme yang tepat dimana nifedipine menghambat masuknya ion kalsium ke saluran kalsium lambat tidak diketahui, tetapi obat ini dianggap menghambat mekanisme kontrol ion-channel saluran, merusak saluran lambat, dan / atau mengganggu pelepasan kalsium dari sarkoplasma. reticulum. Dengan menghambat masuknya kalsium, nifedipine menghambat proses kontraktil otot polos jantung dan pembuluh darah, sehingga melebarkan arteri koroner dan sistemik utama.

Nifedipine adalah vasodilator arteri perifer yang bertindak langsung pada otot polos pembuluh darah. Pengikatan nifedipine ke saluran yang bergantung pada voltase dan kemungkinan reseptor dalam otot polos pembuluh darah menghasilkan penghambatan masuknya kalsium melalui saluran ini. Simpanan kalsium intraseluler dalam otot polos vaskular terbatas dan dengan demikian tergantung pada masuknya kalsium ekstraseluler untuk kontraksi terjadi. Pengurangan masuknya kalsium oleh nifedipine menyebabkan vasodilatasi arteri dan penurunan resistensi pembuluh darah perifer yang mengakibatkan berkurangnya tekanan darah arteri.

ADALAT OROS 30 MG 30S yang mengandung Nifedipine merupakan Obat yang termasuk ke dalam Golongan Obat Keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter.
Related imageADALAT OROS 30 MG 30S dapat diminum sebelum maupun sesudah makan. Untuk hasil yang lebih maksimal, ADALAT OROS 30 MG 30S diminum setiap hari dan diusahkan dalam waktu yang sama setiap hari nya. Jika tidak sengaja lupa meminum ADALAT OROS 30 MG 30S, disarankan untuk segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan mengganti dosis yang terlewat dengan menggandakan dosis pada jadwal berikutnya.
Kegunaan
ADALAT OROS 30 MG 30S yang mengandung Nifedipine digunakan untuk membantu mengobati :
  • Tekanan darah tinggi (Hipertensi)
  • Nyeri dada (Angina pektoris)
  • Sindrom Raynaud (penghambatan penyaluran darah di pembuluh nadi kecil)

Hipertensi

Berdasarkan rekomendasi dari Laporan Ketujuh Komite Nasional Bersama tentang Pencegahan, Deteksi, Evaluasi, dan Pengobatan Tekanan Darah Tinggi (JNC 7), klasifikasi BP untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun atau lebih telah sebagai berikut [2]:
Normal: Sistolik lebih rendah dari 120 mm Hg, diastolik lebih rendah dari 80 mm Hg
Prehipertensi: Sistolik 120-139 mm Hg, diastolik 80-89 mm Hg
stadium 1: Sistolik 140-159 mm Hg, diastolik 90-99 mm Hg
Stadium 2: Sistolik 160 mm Hg atau lebih besar, diastolik 100 mm Hg atau lebih besar

Hipertensi mungkin primer, yang dapat berkembang sebagai akibat dari penyebab lingkungan atau genetik, atau sekunder, yang memiliki beberapa etiologi, termasuk ginjal, vaskular, dan penyebab endokrin. Hipertensi primer atau esensial menyumbang 90-95% kasus dewasa, dan hipertensi sekunder menyumbang 2-10% kasus.
Salah satu hipotesis adalah bahwa prehipertensi menghasilkan oksidasi lipid seperti asam arakidonat yang mengarah pada pembentukan isoketal atau isolevuglandin, yang berfungsi sebagai neoantigen, yang kemudian disajikan ke sel T, yang mengarah ke aktivasi sel T dan infiltrasi organ penting (misalnya , ginjal, pembuluh darah). [16] Hal ini menyebabkan hipertensi persisten atau berat dan kerusakan organ akhir. Aktivasi sistem saraf simpatis dan rangsangan noradrenergik juga telah ditunjukkan untuk mempromosikan aktivasi dan infiltrasi T-limfosit dan berkontribusi pada patofisiologi hipertensi.
Perkembangan hipertensi esensial adalah sebagai berikut:
Prehipertensi pada orang yang berusia 10-30 tahun (dengan peningkatan curah jantung)

Hipertensi dini pada orang berusia 20-40 tahun (di mana peningkatan resistensi perifer menonjol)

Hipertensi yang mapan pada orang yang berusia 30-50 tahun
Hipertensi yang rumit pada orang yang berusia 40-60 tahun
Sebagaimana terlihat dari penjelasan di atas, individu yang lebih muda mungkin datang dengan hipertensi yang terkait dengan peningkatan curah jantung (hipertensi output tinggi). Hasil hipertensi output tinggi dari retensi volume dan natrium oleh ginjal, menyebabkan peningkatan volume stroke dan, sering, dengan stimulasi jantung oleh hiperaktivitas adrenergik. Resistensi vaskular sistemik umumnya tidak meningkat pada tahap awal hipertensi. Sebagai hipertensi berkelanjutan, bagaimanapun, adaptasi vaskular termasuk remodelling, vasokonstriksi, dan kejang vaskular terjadi, yang mengarah ke peningkatan resistensi vaskular sistemik. Dalam situasi ini, curah jantung umumnya normal atau sedikit berkurang, dan volume darah yang beredar normal.
Kebanyakan individu yang didiagnosis dengan hipertensi akan mengalami peningkatan tekanan darah (BP) saat mereka menua. Hipertensi yang tidak diobati terkenal untuk meningkatkan risiko kematian dan sering digambarkan sebagai silent killer. Hipertensi ringan sampai sedang, jika tidak ditangani, dapat dikaitkan dengan risiko penyakit aterosklerotik pada 30% orang dan kerusakan organ pada 50% orang dalam 8-10 tahun setelah onset.
Kematian akibat penyakit jantung iskemik atau stroke meningkat secara progresif ketika BP meningkat. Untuk setiap 20 mm Hg sistolik atau 10 mm Hg peningkatan diastolik pada BP di atas 115/75 mm Hg, tingkat kematian untuk kedua penyakit jantung iskemik dan stroke ganda.
Hipertensi adalah gangguan seumur hidup. Untuk kontrol optimal, komitmen jangka panjang untuk modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologis diperlukan. Oleh karena itu, pendidikan dan konseling pasien yang mendalam secara berulang tidak hanya meningkatkan kepatuhan dengan terapi medis tetapi juga mengurangi faktor risiko kardiovaskular.
Proses Terjadinya Hipertensi :Dari berbagai faktor yang menimbulkan tekanan darah tinggi adalah diawali dengan penyempitan kekakuan pembuluh arteri darah, oleh karena pengendapan lemak peroksida kolesterol dan trigliserida.
-Akibat dari penyempitan pembuluh darah menimbulkan peningkatan tekanan pembuluh darah terutama pembuluh daraharteri kecil
-Penyempitan pada organ ginjal berakibat aliran darah ke ginjal menurun
-Apabila terjadi kerusakan pada sel-sel nephron ginjal, maka akan memicu produksi enzim rennin Enzim renin berfungsi mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I, selanjutnya angiotensin I oleh converting enzim diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II berfungsi merangsang sekresi hormon aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron berperan meningkatkan reabsorpsi ion Na dan klorida pada tubulus kontortus distal.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat diparu-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II.
Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus(kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangatsedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknyakonsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) Renin Angiotensin Aldosteron System atau disebut juga RAAS adalah suatu sistem/mekanisme hormon yang mengatur keseimbangan tekanan darah dan cairan dalam tubuh. Dalam mekanisme ini ada beberapa hormon yang mempunyai peran penting, diantaranya adalah :1. Renin : suatu enzim protein yang dilepaskan oleh ginjal bila aliran darah turun. 2. Angiotensin : merupakan enzim yang dibagi menjadi; angiotensin 1( enzim yang mempunyai sifat vasokonstriktor ringan tapidapat bertahan lama dalam darah); angiotensin II (enzim yang mempunyai sifat vasokonstriktor kuat tapi hanya 1-2 menit dalam darah karena diinaktivasi angiotensinase) 3. Angiotensinogen : pengubah renin menjadi angiotensin 1. 4. angiotensin converting enzim(ACE): enzim pengubah angiotensin 1 menjadi 2. 5. Aldosteron : hormon steroid golongan mineral kortikoid yang dihasilkan oleh korteks adrenal yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan absorpsi natrium dan meningkatkan sekresi kalium oleh sel epitel ginjal terutama sel prinsipal di sel tubulus kolektivus.
Mekanisme kerja dari RAAS dapat dimulai dari 3 proses: 1. Penurunan volume darah yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan darah di glomerulus. (hipotensi/renal arterystenosis). 2. Stimulasi sel juxtaglomerular oleh saraf simpatis. 3. penurunan konsentrasi osmotic cairan tubular di macula densa. (penurunan kadar sodium)3 proses diatas dapat merangsang sel-sel jukstaglomerular di ginjal untuk melepaskan enzim renin, kemudian renin ini akan bersirkulasi ke seluruh tubuh yang kemudian akan bertemu dengan angiotensinogen yang diproduksi di hati untuk melepaskan enzim angiotensin I. Angiotensin I akan berubah menjadi Angiotensin II setelah diubah oleh Angiotensin Converting Enzim(ACE) yang dihasilkan oleh endotelium pembuluh paru.
Angiotensin II akan menyebabkan beberapa efek, yaitu :1. vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di arteriol yang akan meningkatkan tahanan perifer total sehingga terjadipeningkatan tekanan arteri. 2. menurunkan eksresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang menyebabkan peningkatan tekanan arteri juga. 3. merangsang sekresi aldosteron di kalenjar adrenal yang kemudian meningkatkan reabsorpsi garam dan air oleh tubulus ginjal. 4. merangsang central nervous system untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary posterior mengeluarkan hormone vasopresin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi air di ductus collectivus dan peningkatan tonus simpatis, meningkatkan cardiac output.

Berbagai strategi untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular termasuk yang berikut:
1. Jumlah aktivitas fisik aerobik yang tepat
2.Diet rendah garam, lemak total, dan kolesterol
3. Asupan diet yang cukup kalium, kalsium, dan magnesium
4. Konsumsi alkohol terbatas
5. Menghindari merokok
6.Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain



Daftar pustaka
US EPA; Paket Perkiraan Program Antarmuka (EPI). Ver.4.0. Jan, 2009. Tersedia mulai tanggal 14 Oktober 2009: http://www.epa.gov/oppt/exposure/pubs/episuitedl.htm

by : RANAH mewarnai
“jadilah manusia yang paling banyak manfaatnya “



Nifedipin vs oros osmotic-controlled release oral delivery system (Tablet pelepasan lambat)

Rumus molekul : C17H18N2O6
Nama IUPC : dimethyl 2,6-dimethyl-4-(2-nitrophenyl)-1,4-dihydropyridine-3,5-dicarboxylate
Titik lebur : 172-174 °C
Kelarutan : kurang dari 1 mg / mL pada 67,1° F (NTP, 1992) , tidak larut air
Tekanan uap : 2,6X10-8 mmHg pada 25 derajat C
Log p : 2.20 menurut MASUMOTO,K ET AL. (1995)
                   Nifedipine adalah agen vasodilator kuat dengan aksi antagonis kalsium. Ini adalah agen anti-angina(nyeri dada) yang berguna yang juga menurunkan tekanan darah.
Nifedipine adalah Penghambat Saluran Kalsium dihidropiridin. Mekanisme kerja nifedipine adalah sebagai Antagonis Saluran Kalsium.
                   Klasifikasi kimia nifedipine adalah Dihydropyridines.
Nifedipine adalah agen penghambat saluran kalsium dihidropiridin. Nifedipine menghambat masuknya transmembran ion kalsium ekstraseluler ke dalam sel otot polos miokard dan vaskular, menyebabkan dilatasi arteri koroner dan sistemik utama dan menurunkan kontraktilitas miokard. Agen ini juga menghambat pompa penghabisan obat P-glikoprotein yang diekspresikan berlebihan pada beberapa tumor yang resistan terhadap beberapa obat dan dapat meningkatkan efikasi beberapa agen antineoplastik. (NCI04)
                   Pada konsentrasi terapeutik sub-toksik, nifedipine memiliki sedikit efek pada myocytes jantung dan sel konduksi. Dengan memblokir saluran kalsium, Nifedipine menghambat spasme arteri koroner dan melebarkan arteri sistemik, menghasilkan peningkatan suplai oksigen miokard dan penurunan tekanan darah sistemik.
               Kelas Farmakologi
Mekanisme Aksi [MoA]
Antagonis Saluran Kalsium
Established Pharmacologic Class [EPC]
Dihydropyridine Calcium Channel Blocker
Chemical/Ingredient structural concept [Chemical/Ingredient]                
Dihydropyridines


Bentuk & Kekuatan Dosis
Kapsul (IR): 10mg, 20mg
tablet, (ER) rilis diperpanjang : 30mg, 60mg, 90mg

Angina
10 mg (konvensional) PO q8hr atau 30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari awalnya; dapat ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN

Perawatan: 10-20 mg (konvensional) PO q8hr hingga 20-30 mg PO q6-8hr; tidak melebihi 180 mg / hari (konvensional) atau 120 mg / hari (rilis diperpanjang)

Hipertensi
30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari; dapat ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN; tidak melebihi 90 mg / hari (Adalat CC) atau 120 mg / hari (Procardia XL)

Hipertensi pulmonal
30 mg (diperpanjang-rilis) PO q12hr; dapat ditingkatkan menjadi 120-240 mg / hari (monitor)

Raynaud Phenomenon (Off-label)
30-120 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari

Anal Fissures (Off-label)
0,2% gel / salep topikal (extemporaneously compounded) q12hr selama 3-6 minggu

20 mg sublingual
Modifikasi Dosis
Peritoneal dialysis (PD) atau hemodialysis (HD): Dosis tambahan tidak diperlukan

Sirosis: Pertimbangkan penyesuaian dosis
Administrasi

Lakukan dengan perut kosong
                   Pengobatan pada pasien Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkaitusia lanjut. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, sarafpusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi.
                   Hindari produk konvensional (yaitu, segera rilisIR); potensi hipotensi dan risiko 
mencetuskan iskemia miokard Angina
 
10 mg (konvensional) PO q8hr atau 30-60 mg (rilis diperpanjang) PO satu kali sehari awalnya; dapat 
ditingkatkan setiap 7-14 hari PRN
 
Perawatan: 10-20 mg (konvensional) PO q8hr hingga 20-30 mg PO q6-8hr; tidak melebihi 
180 mg / hari (konvensional) atau 120 mg / hari (rilis diperpanjang)
 
Hipertensi : 30-60 mg (ER rilis diperpanjang) PO satu kali sehari; dapat ditingkatkan setiap 7-14 hari
 PRN; tidak melebihi 90 mg / hari (Adalat CC) atau 120 mg / hari (Procardia XL)

                   Dampak buruk
Efek merugikan berbeda antara formulasi short-acting (konvensional) dan extended-release, dengan
 preparasi konvensional yang memiliki reaksi obat buruk yang lebih serius dalam beberapa kasus.
> 10% : Edema perifer (10-30%), Pusing (23-27%), Flushing (23-27%), Sakit kepala (10-23%),
Heartburn (11%), Mual (11%), 1-10%, Kram otot (8%), Perubahan mood (7%), Gugup (7%), Batuk (6%)
,Dyspnea (6%), Palpitasi (6%), Desah (6%), Hipotensi, sementara (5%), Urtikaria (2%), Pruritus (2%),
Sembelit (<2%), Nyeri dada (<2%)

Hindari penggunaan formulasi (IR) pelepasan segera pada orang tua; dapat menyebabkan hipotensi 
dan risiko mencetuskan iskemia miokard

Farmakologi
Mekanisme aksi
                   Penghambat saluran kalsium; menghambat masuknya transmembran ion kalsium
 ekstraseluler melintasi membran sel otot polos otot jantung dan pembuluh darah tanpa mengubah
 konsentrasi kalsium serum; ini menghasilkan penghambatan kontraksi otot polos jantung dan 
pembuluh darah, sehingga melebarkan arteri koroner dan sistemik utama
 
Vasodilatasi dengan resistensi perifer menurun dan peningkatan denyut jantung
 
absorbsi
Cepat dan sepenuhnya diserap setelah pemberian oral.
 
Bioavailabilitas: Konvensional, 40-77% ;extended release, 65-89%
 
Onset: Konvensional, 20 menit; extended release, 30 menit
 
Durasi: Konvensional, 8 jam; extended release, 24 jam
 
Puncak waktu plasma: Konvensional, 30-120 menit; extended release, 6 jam (Procardia XL)
 atau 2,5-5 jam (Adalat CC)
 
Distribusi
Protein terikat            : 92-98%
Vd                                  : 1,42-2,2 L / kg
Metabolisme
Dimetabolisme di hati oleh CYP3A4
Metabolit: analog Nitropyridine (tidak aktif)
 
Eliminasi
Setengah hidup (Half-life): Konvensional, 2-5 jam; 7 jam pada sirosis
 
Dialyzable: Tidak ada penyesuaian dosis yang diperlukan dalam HD atau PD
 
Ekskresi: Urine (60-80%), feses (20-40%)

Rute Eliminasi
Nifedipine secara ekstensif dimetabolisme menjadi sangat larut dalam air, metabolit tidak aktif terhitung 60 hingga 80% dari dosis yang diekskresikan dalam urin. Sisanya diekskresikan dalam feses dalam bentuk dimetabolisme, kemungkinan besar sebagai hasil ekskresi biliaris.
Sekitar 90% dari dosis oral nifedipine dengan cepat diserap dari saluran pencernaan setelah pemberian obat oral sebagai kapsul konvensional. Hanya sekitar 45-75% dari dosis oral karena kapsul konvensional mencapai sirkulasi sistemik sebagai obat yang tidak berubah karena nifedipine dimetabolisme pada saat pertama melewati hati. Konsentrasi serum puncak biasanya dicapai dalam waktu 0,5-2 jam setelah pemberian oral sebagai kapsul konvensional. Makanan tampaknya menurunkan tingkat tetapi tidak tingkat penyerapan nifedipine sebagai kapsul konvensional.
American Society of Health System Pharmacists; Informasi Obat AHFS 2009. Bethesda, MD. (2009)
Pada keadaan mapan(steady-state), bioavailabilitas tablet extended-release nifedipin adalah 86% dibandingkan dengan kapsul nifedipin yang segera dilepaskan (imediet-release). Pemberian tablet ER nifedipine dengan adanya makanan sedikit mengubah tingkat awal penyerapan obat, tetapi tidak mempengaruhi tingkat bioavailabilitas obat. Secara signifikan mengurangi waktu penyimpanan GI selama periode yang berkepanjangan (yaitu, sindrom usus pendek), bagaimanapun, dapat mempengaruhi profil farmakokinetik obat yang berpotensi menghasilkan konsentrasi plasma yang lebih rendah.

Setelah pemberian adalat CC extended-release
nifedipine tablet pada individu geriatrik sehat (lebih tua dari 60 tahun), konsentrasi plasma puncak rata-rata dan konsentrasi plasma rata-rata nifedipine meningkat sebesar 36 dan 70%, masing-masing, dibandingkan dengan yang diamati pada yang lebih muda orang dewasa.
Setelah pemberian IV nifedipine, pembersihan tubuh obat adalah 519 dan 348 mL / menit pada orang dewasa muda dan individu geriatri, masing-masing.
Metabolisme / Metabolit
Metabolisme
Metabolisme hati melalui sitokrom P450 sistem. Sebagian besar dimetabolisme oleh CYP3A4, tetapi juga oleh CYP1A2 dan CYP2A6 isozim.
Obat ini secara ekstensif dimetabolisme di hati (untuk metabolit yang sangat larut dalam air, tidak aktif) oleh sitokrom P-450 sistem enzim mikrosomal, termasuk CYP3A.
American Society of Health System Pharmacists; Informasi Obat AHFS 2009. Bethesda, MD. (2009)

Biological Half-Life
2 jam Pada pasien dengan fungsi ginjal dan hati yang normal, the plasma half-life nifedipine adalah sekitar 2 jam ketika diberikan sebagai kapsul konvensional, dan sekitar 7 jam ketika diberikan sebagai tablet rilis diperpanjang (Adalat CC).

Mekanisme aksi
Nifedipine mengurangi kontraktilitas otot polos arteri dan vasokonstriksi berikutnya dengan menghambat masuknya ion kalsium melalui saluran kalsium tipe L. Ion kalsium yang memasuki sel melalui saluran ini berikatan dengan calmodulin. Kalsium-bound calmodulin kemudian mengikat dan mengaktifkan myosin light chain kinase (MLCK). Activated MLCK mengkatalisis fosforilasi subunit rantai regulasi ringan dari myosin, langkah kunci dalam kontraksi otot. Amplifikasi sinyal dicapai dengan pelepasan kalsium yang diinduksi kalsium dari retikulum sarkoplasma melalui reseptor ryanodine. Penghambatan masuknya awal kalsium menghambat proses kontraktil sel otot polos, menyebabkan pelebaran arteri koroner dan sistemik, peningkatan pengiriman oksigen ke jaringan miokard, penurunan resistensi perifer total, penurunan tekanan darah sistemik, dan penurunan afterload. Efek vasodilatory dari nifedipine menghasilkan penurunan tekanan darah secara keseluruhan.

               Tindakan fisiologis utama nifedipine adalah untuk menghambat masuknya transmembran ion kalsium ekstraseluler melintasi membran sel miokard dan sel otot polos pembuluh darah, tanpa mengubah konsentrasi serum kalsium. Kalsium memainkan peran penting dalam proses pengikatan eksitasi-kontraksi jantung dan sel otot polos pembuluh darah dan dalam pelepasan listrik sel konduksi khusus dari jantung. Membran sel-sel ini mengandung banyak saluran yang membawa arus lambat ke dalam dan yang selektif untuk kalsium. Aktivasi saluran kalsium lambat ini berkontribusi pada fase plateau (fase 2) dari potensial aksi sel otot polos jantung dan pembuluh darah. Mekanisme yang tepat dimana nifedipine menghambat masuknya ion kalsium ke saluran kalsium lambat tidak diketahui, tetapi obat ini dianggap menghambat mekanisme kontrol ion-channel saluran, merusak saluran lambat, dan / atau mengganggu pelepasan kalsium dari sarkoplasma. reticulum. Dengan menghambat masuknya kalsium, nifedipine menghambat proses kontraktil otot polos jantung dan pembuluh darah, sehingga melebarkan arteri koroner dan sistemik utama.

Nifedipine adalah vasodilator arteri perifer yang bertindak langsung pada otot polos pembuluh darah. Pengikatan nifedipine ke saluran yang bergantung pada voltase dan kemungkinan reseptor dalam otot polos pembuluh darah menghasilkan penghambatan masuknya kalsium melalui saluran ini. Simpanan kalsium intraseluler dalam otot polos vaskular terbatas dan dengan demikian tergantung pada masuknya kalsium ekstraseluler untuk kontraksi terjadi. Pengurangan masuknya kalsium oleh nifedipine menyebabkan vasodilatasi arteri dan penurunan resistensi pembuluh darah perifer yang mengakibatkan berkurangnya tekanan darah arteri.

ADALAT OROS 30 MG 30S yang mengandung Nifedipine merupakan Obat yang termasuk ke dalam Golongan Obat Keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter.
Related imageADALAT OROS 30 MG 30S dapat diminum sebelum maupun sesudah makan. Untuk hasil yang lebih maksimal, ADALAT OROS 30 MG 30S diminum setiap hari dan diusahkan dalam waktu yang sama setiap hari nya. Jika tidak sengaja lupa meminum ADALAT OROS 30 MG 30S, disarankan untuk segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan mengganti dosis yang terlewat dengan menggandakan dosis pada jadwal berikutnya.
Kegunaan
ADALAT OROS 30 MG 30S yang mengandung Nifedipine digunakan untuk membantu mengobati :
  • Tekanan darah tinggi (Hipertensi)
  • Nyeri dada (Angina pektoris)
  • Sindrom Raynaud (penghambatan penyaluran darah di pembuluh nadi kecil)

Hipertensi

Berdasarkan rekomendasi dari Laporan Ketujuh Komite Nasional Bersama tentang Pencegahan, Deteksi, Evaluasi, dan Pengobatan Tekanan Darah Tinggi (JNC 7), klasifikasi BP untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun atau lebih telah sebagai berikut [2]:
Normal: Sistolik lebih rendah dari 120 mm Hg, diastolik lebih rendah dari 80 mm Hg
Prehipertensi: Sistolik 120-139 mm Hg, diastolik 80-89 mm Hg
stadium 1: Sistolik 140-159 mm Hg, diastolik 90-99 mm Hg
Stadium 2: Sistolik 160 mm Hg atau lebih besar, diastolik 100 mm Hg atau lebih besar

Hipertensi mungkin primer, yang dapat berkembang sebagai akibat dari penyebab lingkungan atau genetik, atau sekunder, yang memiliki beberapa etiologi, termasuk ginjal, vaskular, dan penyebab endokrin. Hipertensi primer atau esensial menyumbang 90-95% kasus dewasa, dan hipertensi sekunder menyumbang 2-10% kasus.
Salah satu hipotesis adalah bahwa prehipertensi menghasilkan oksidasi lipid seperti asam arakidonat yang mengarah pada pembentukan isoketal atau isolevuglandin, yang berfungsi sebagai neoantigen, yang kemudian disajikan ke sel T, yang mengarah ke aktivasi sel T dan infiltrasi organ penting (misalnya , ginjal, pembuluh darah). [16] Hal ini menyebabkan hipertensi persisten atau berat dan kerusakan organ akhir. Aktivasi sistem saraf simpatis dan rangsangan noradrenergik juga telah ditunjukkan untuk mempromosikan aktivasi dan infiltrasi T-limfosit dan berkontribusi pada patofisiologi hipertensi.
Perkembangan hipertensi esensial adalah sebagai berikut:
Prehipertensi pada orang yang berusia 10-30 tahun (dengan peningkatan curah jantung)

Hipertensi dini pada orang berusia 20-40 tahun (di mana peningkatan resistensi perifer menonjol)

Hipertensi yang mapan pada orang yang berusia 30-50 tahun
Hipertensi yang rumit pada orang yang berusia 40-60 tahun
Sebagaimana terlihat dari penjelasan di atas, individu yang lebih muda mungkin datang dengan hipertensi yang terkait dengan peningkatan curah jantung (hipertensi output tinggi). Hasil hipertensi output tinggi dari retensi volume dan natrium oleh ginjal, menyebabkan peningkatan volume stroke dan, sering, dengan stimulasi jantung oleh hiperaktivitas adrenergik. Resistensi vaskular sistemik umumnya tidak meningkat pada tahap awal hipertensi. Sebagai hipertensi berkelanjutan, bagaimanapun, adaptasi vaskular termasuk remodelling, vasokonstriksi, dan kejang vaskular terjadi, yang mengarah ke peningkatan resistensi vaskular sistemik. Dalam situasi ini, curah jantung umumnya normal atau sedikit berkurang, dan volume darah yang beredar normal.
Kebanyakan individu yang didiagnosis dengan hipertensi akan mengalami peningkatan tekanan darah (BP) saat mereka menua. Hipertensi yang tidak diobati terkenal untuk meningkatkan risiko kematian dan sering digambarkan sebagai silent killer. Hipertensi ringan sampai sedang, jika tidak ditangani, dapat dikaitkan dengan risiko penyakit aterosklerotik pada 30% orang dan kerusakan organ pada 50% orang dalam 8-10 tahun setelah onset.
Kematian akibat penyakit jantung iskemik atau stroke meningkat secara progresif ketika BP meningkat. Untuk setiap 20 mm Hg sistolik atau 10 mm Hg peningkatan diastolik pada BP di atas 115/75 mm Hg, tingkat kematian untuk kedua penyakit jantung iskemik dan stroke ganda.
Hipertensi adalah gangguan seumur hidup. Untuk kontrol optimal, komitmen jangka panjang untuk modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologis diperlukan. Oleh karena itu, pendidikan dan konseling pasien yang mendalam secara berulang tidak hanya meningkatkan kepatuhan dengan terapi medis tetapi juga mengurangi faktor risiko kardiovaskular.
Proses Terjadinya Hipertensi :Dari berbagai faktor yang menimbulkan tekanan darah tinggi adalah diawali dengan penyempitan kekakuan pembuluh arteri darah, oleh karena pengendapan lemak peroksida kolesterol dan trigliserida.
-Akibat dari penyempitan pembuluh darah menimbulkan peningkatan tekanan pembuluh darah terutama pembuluh daraharteri kecil
-Penyempitan pada organ ginjal berakibat aliran darah ke ginjal menurun
-Apabila terjadi kerusakan pada sel-sel nephron ginjal, maka akan memicu produksi enzim rennin Enzim renin berfungsi mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I, selanjutnya angiotensin I oleh converting enzim diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II berfungsi merangsang sekresi hormon aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron berperan meningkatkan reabsorpsi ion Na dan klorida pada tubulus kontortus distal.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat diparu-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II.
Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus(kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangatsedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknyakonsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) Renin Angiotensin Aldosteron System atau disebut juga RAAS adalah suatu sistem/mekanisme hormon yang mengatur keseimbangan tekanan darah dan cairan dalam tubuh. Dalam mekanisme ini ada beberapa hormon yang mempunyai peran penting, diantaranya adalah :1. Renin : suatu enzim protein yang dilepaskan oleh ginjal bila aliran darah turun. 2. Angiotensin : merupakan enzim yang dibagi menjadi; angiotensin 1( enzim yang mempunyai sifat vasokonstriktor ringan tapidapat bertahan lama dalam darah); angiotensin II (enzim yang mempunyai sifat vasokonstriktor kuat tapi hanya 1-2 menit dalam darah karena diinaktivasi angiotensinase) 3. Angiotensinogen : pengubah renin menjadi angiotensin 1. 4. angiotensin converting enzim(ACE): enzim pengubah angiotensin 1 menjadi 2. 5. Aldosteron : hormon steroid golongan mineral kortikoid yang dihasilkan oleh korteks adrenal yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan absorpsi natrium dan meningkatkan sekresi kalium oleh sel epitel ginjal terutama sel prinsipal di sel tubulus kolektivus.
Mekanisme kerja dari RAAS dapat dimulai dari 3 proses: 1. Penurunan volume darah yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan darah di glomerulus. (hipotensi/renal arterystenosis). 2. Stimulasi sel juxtaglomerular oleh saraf simpatis. 3. penurunan konsentrasi osmotic cairan tubular di macula densa. (penurunan kadar sodium)3 proses diatas dapat merangsang sel-sel jukstaglomerular di ginjal untuk melepaskan enzim renin, kemudian renin ini akan bersirkulasi ke seluruh tubuh yang kemudian akan bertemu dengan angiotensinogen yang diproduksi di hati untuk melepaskan enzim angiotensin I. Angiotensin I akan berubah menjadi Angiotensin II setelah diubah oleh Angiotensin Converting Enzim(ACE) yang dihasilkan oleh endotelium pembuluh paru.
Angiotensin II akan menyebabkan beberapa efek, yaitu :1. vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di arteriol yang akan meningkatkan tahanan perifer total sehingga terjadipeningkatan tekanan arteri. 2. menurunkan eksresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang menyebabkan peningkatan tekanan arteri juga. 3. merangsang sekresi aldosteron di kalenjar adrenal yang kemudian meningkatkan reabsorpsi garam dan air oleh tubulus ginjal. 4. merangsang central nervous system untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary posterior mengeluarkan hormone vasopresin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi air di ductus collectivus dan peningkatan tonus simpatis, meningkatkan cardiac output.

Berbagai strategi untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular termasuk yang berikut:
1. Jumlah aktivitas fisik aerobik yang tepat
2.Diet rendah garam, lemak total, dan kolesterol
3. Asupan diet yang cukup kalium, kalsium, dan magnesium
4. Konsumsi alkohol terbatas
5. Menghindari merokok
6.Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain



Daftar pustaka
US EPA; Paket Perkiraan Program Antarmuka (EPI). Ver.4.0. Jan, 2009. Tersedia mulai tanggal 14 Oktober 2009: http://www.epa.gov/oppt/exposure/pubs/episuitedl.htm

by : RANAH mewarnai
“jadilah manusia yang paling banyak manfaatnya “